07 August 2009

WS Rendra: Mengukir Dunia


(WS Rendra: 1935-2009)


Hidup tidaklah untuk mengeluh dan mengaduh.

Hidup adalah untuk mengolah hidup.

Bekerja membalik tanah.

Memasuki rahasia langit dan samodra.

Serta mencipta dan mengukir dunia.

Kita menyandang tugas.

Karena tugas adalah tugas.

Bukan demi sorga atau neraka.

Tapi demi kehormatan manusia.

Karena sesungguhnyalah kita bukan debu.

Meski kita sudah reyot, tua renta dan kelabu.

Kita adalah kepribadian.

Dan harga kita adalah kehormatan kita.

Tolehlah lagi ke belakang.

Ke masa silam yang tak seorang pun kuasa menghapusnya


Catatan:
"Sang burung merak" Indonesia itu terbang selamanya pada hari Kamis, 6 Agustus 2009, pukul 20.30 WIB. Selamat Jalan Maestro!

17 April 2009

The Power of Dreams

Awalnya...



Berkat kekuatan impian, lalu kini...

15 April 2009

Komitmen

Saya hanya perlu tiga langkah:
1. Menetapkan TUJUAN -- detonator dipicu dari sini.
2. Menguatkan FOKUS pada tujuan tersebut --Impossible is nothing, adalah mantra mujarab tuk menahan godaan menyerah.
3. Menjanjikan HADIAH pada diri saya pada saat saya berhasil mencapainya.--Rayakan kemenangan!

Meskipun hanya tiga langkah, bukan berarti ini semudah membalik telapak tangan. Tapi, bukankah hidup memang butuh komitmen?

Satu Kali Tiap Detik



Cerita di bawah ini saya pinjam dari notes facebooknya Pak Tanadi Santoso - sebuah cerita yang merupakan versi lain dari petuah bijak: "Perjalanan ribuan mil, dimulai dari langkah pertama". Mari kita nikmati!


Inilah dongeng tentang pembuat jam. Dia membuat jam yang sangat baik dan disukai semua orang.. Uniknya, pembuat jam ini dapat berbicara dengan jam yang dibuatnya.

Konon, ketika sedang membuat jam, ia bertanya kepada jam itu, "Hai jam, sanggupkah kamu bekerja berdetak sebanyak 31.536.000 kali dalam setahun?" Jam tersebut merasa keberatan karena dia merasa tidak sanggup dengan beban yang begitu banyak.

Maka pembuat jam kembali menawarkan, "Bagaimana kalau sebanyak 86.400 kali dalam sehari?". Karena dirasa beban masih berat, jam masih menolak hal tersebut. Kembali pembuat jam menawar "Bagaimana jika 3.600 dalam satu jam saja?". Jam masih saja merasa akan kecapekan bila harus berdetak selama 3.600 kali dalam satu jam.

Maka akhirnya pembuat jam pun memberikan pilihan terakhir, "Bagaimana kalau satu kali saja tiap satu detik?" Jam merasa, hal ini tidaklah berat dan iapun menyanggupinya. Akhirnya jam itu pun dibuat sampai jadi.

Setiap detik jam itu hanya perlu berdetak satu kali saja, bukan pekerjaan berat, hanya satu kali, dan dalam setahun tanpa terasa, dia telah berdetak sebanyak 31.536.000 kali.
Memecah pekerjaan besar menjadi pekerjaan kecil, membagi mimpi besar menjadi mimpi2 kecil, kiat akan lebih mudah menyelesaikannya.

Demikian pula dalam berbisnis kita juga tidak mungkin bisa langsung membuat sebuah kerajaan bisnis yang besar dan kaya raya. Bahkan bayangan untuk mencapai itu saja terasa terlalu berat dan tidak masuk akal. Tetapi kita harus melangkah satu demi satu, setiap hari, setiap minggu.

Kalau Anda tidak sanggup membuat satu perusahaan, maka buatlah rencana pekerjaan selama satu tahun dengan giat. Kalau hal itu masih dirasa berat, cobalah untuk mengerjakan pekerjaan Anda pada minggu ini dengan sebaik-baiknya, atau bahkan pekerjaan hari ini saja sebaik baiknya, dan ulangi lagi keesokan harinya. Dengan demikian, Anda akan melalui hari demi hari yang dalam satu dua tahun ke depan usaha Anda akan menjadi sukses dan besar. Karena setiap hari Anda bekerja sungguh-sungguh.

Bilamana mimpi anda terasa sangatlah susah dicapai, jangan berhenti, bekerjalah sebaik baiknya, perkecil mimpi itu menjadi target tahun ini saja, dan bila perencanaan setahun berat, rencanakan saja hari ini, sebaik baiknya, menuju kesuksesan anda sendiri. Masa depan kita ada ditangan kita sendiri.
_____
*disadur dari dongeng yang kudengar pada satu masa yang lalu, entah kapan, entah dimana, salam sukses selalu.

02 April 2009

Sang Angsa dan Telur Emas

Pada suatu hari seorang petani miskin menemukan sebutir telur emas yang berkilau di sarang angsa peliharaannya. Pada mulanya ia berpikir ini pasti semacam tipuan. Tetapi, ketika ia akan membuangnya, ia berpikir-pikir lagi dan membawanya pulang untuk memeriksanya.

Telur itu ternyata emas murni! Si petani tidak percaya akan keberuntungannya. Ia menjadi semakin tidak percaya ketika pada hari berikutnya pengalaman tersebut berulang kembali. Hari demi hari, ia bangun dan bergegas menuju sarang dan menemukan satu lagi telur emas. Ia menjadi sangat kaya; semua ini kelihatannya seperti sesuatu yang mustahil menjadi kenyataan.

Namun, sewaktu ia bertambah kaya timbul pula sifat tamak dan tidak sabar. Tidak sabar menunggu hari demi hari untuk mendapatkan telur emas tersebut, akhirnya Si petani memutuskan untuk membunuh sang angsa untuk meraup semua telur emas itu sekaligus.

Tetapi, ketika ia membuka perut si angsa tersebut, ternyata kosong. Tidak ada telur emas--dan sekarang tidak ada cara untuk mendapatkan telur emas lagi. Si petani telah menghancurkan angsa yang menghasilkan telur-telur tersebut.

---
di tulis ulang dari buku the 7 habits-nya Stephen Covey